Wednesday, July 20, 2016

Pra Nikah (1) : Kok bisa yakin nikah? dan sama si dia?

Inilah pertanyaan yang pernah ditanyakan ke saya

"Kenapa yakin nikah?"
"Kenapa yakin bisa nikah sama si calon, Yas?"





Saat itu saya belum sempat jawab lengkap karena malu-malu (apa malu-maluin.. -_-)

Tapi memang memilih jodoh tuh, sesuatu. Kalau nyari kerja ya jodoh-jodohan tapi ya bisa toh beberapa tahun pindah, tapi ini jodoh alias pendamping hidup, semuanya pasti ingin untuk seumur hidup. Karena ini bukan perkara satu dua tahun, tapi seseorang yang akan mendampingi kita seumur hidup, seseorang yang semestinya kita lihat tiap habis bangun tidur, yang pilihan hidupnya akan memengaruhi pilihan hidup kita, yang gennya akan memengaruhi keturunan kita, seseorang yang perlu kita tanya pendapatnya sebelum melakukan sesuatu, tuh panjang kan ya.. hehehe

Sebegitu panjangnya, tapi kalau dari pengalaman pribadi saya memilih si mr. right, saya berusaha menyesuaikan dengan petunjuk yang sudah ada dari jaman dahulu kala, dan yang sudah terbukti kebaikannya terhadap kehidupan saya.

Tuntunan dari Rasullah SAW, yang saya gunakan digabung dengan perkembangan zaman sekarang (sisi psikologinya). Belajar juga dari pengamatan saya sama pengalaman teman-teman sekitar, tapi tetap syariah dari Rasullah SAW yang patut jadi dasar ya (bismillah). Istilahnya adalah mencari yang se-kufu  atau sepadan. Seperti yang saya kutip dari WebMuslimah, hadits Rasul diambil dari hadits riwayat Tirmidzi dan Hasan.

يَا عَلِيُّ ثَلَاثٌ لَا تُؤَخِّرْهَا الصَّلَاةُ إِذَا أَتَتْ وَالْجَنَازَةُ إِذَا حَضَرَتْ وَالْأَيِّمُ إِذَا وَجَدَتْ لَهَا كُفْؤًا

“Wahai Ali, ada tiga perkara yang jangan kau tunda pelaksanannya; shalat apabila telah tiba waktunya, jenazah apabila telah siap penguburannya, dan wanita apabila telah menemukan jodohnya yang sekufu/sepadan” (HR. Tirmidzi; hasan)




Nah, ada beberapa pertanyaan dan jawaban yang sebaiknya sudah ada, sebelum dirimu bilang 'Yes' ke komitmen pernikahan dan dengan orang tersebut. Beda orang beda cara, beberapa orang kalau udah ngerasa sreg sama si pacar atau calon ya ayo aja. DI bawah ini ada beberapa pertanyaan yang semoga bisa jadi referensi untuk menetapkan hati. Semoga bisa bantu melengkapi check list aza ya :)



  1. Apakah  kamu sudah puas dengan masa mudamu? 

    Ini pertanyaan super penting pertama yang perlu kamu tanya ke dirimu sendiri. Beberapa orang menikah di usia yang kalau jaman sekarang terbilang sangat belia,19-23 tahun. Ada yang memang sudah senang langsung diberikan momongan dan waktunya lebih banyak di rumah, tidak lanjut ke jenjang Strata 1 (S1) dan fokus mengurus anak sejak usia 19 tahun. Ada yang tetap happy aja, ada yang malah jadi stress.

    Beberapa orang lain menikah di usia sedang, 24-30 tahun, dan seterusnya. Nah, apa yang membedakan soal senang atau ga senang? puas dan ga puasa?

    Menurut pengamatan saya, ini bukan soal di usia berapa kita menikah, tapi apakah orang tersebut sudah memenuhi hak dirinya di usia mudanya. Apakah orang tersebut sudah melakukan hal dia ingin lakukan? Nah, kata puas itu pun tergantung kita sendiri, parameternya berbeda di tiap individu.

    Ada yang puas kalau sudah selesai kuliah hingga S1, ada yang ingin hingga S2, ada yang ingin sampai sudah pernah jalan-jalan sendiri ke luar negeri, ada yang kalau sudah dapat pekerjaan yang diinginkan, ada yang ingin bisa beli rumah dahulu agar ga merepotkan ortu dan lain-lain.

    Jadi pastikan ke diri kita, kita sudah merasa cukup dengan 'being single and free'. Dan siap dengan tugas mulia sebagai seorang ibu yang ladang pahalanya sangat luas yang akan banyak kita bahas di poin 11. Dan yang pastinya beda tanggung jawabnya saat kita masih sendiri.

    Tapi akan ada kondisi dimana kita sudah yakin dengan pernikahan dan calon, dan merasa bisa meraih cita-cita bersama dengan pendamping. Pada kondisi tersebut perlu dipastikan si pendamping juga satu suara dan bersedia jika sang istri sekolah lagi atau melanjutkan cita-citanya dengan syarat yang disepakati bersama. Jadi jangan lupa harus ada mufakat, tidak bisa dipaksakan, namanya juga pasangan hidup, apa yang dilakukan istri akan berefek ke suami dan sebaliknya. Harus seimbang dan ada yang mau mengalah ^^
  2. Apakah kamu yakin dia sudah puas dengan masa mudanya?

    Selain ke dirimu, kamu juga perlu pastikan si calon juga berada di tahap yang sama. Apalagi laki-laki, dia perlu sudah selesai dari namanya "masa bandel". Masa bandel ini kalau si calon tipenya playboy, sudah selesai masa coba-coba dan siap untuk setia dan serius dengan satu orang. Fase untuk masing-masing orang berbeda tergantung berbagai faktor ( keluarga, pendidikan, masa kecil, dan lain sebagainya). Atau si dia masih ingin bantu ekonomi keluarga, dan lain-lain. Pastikan kalian nikah karena keduanya sudah sama-sama yakin, jangan sampai hanya salah satunya saja.

    Pahami kalau masing-masing orang punya latar belakang yang berbeda, kondisi keluarga yang berbeda, dan cita-cita yang berbeda juga. Jangan sampai nikah karena status, misal toh kita udah pacaran lama.

    Tanyakan ke si dia, kenapa dia memilih menikah di usianya sekarang? klarifikasi boleh dong, kalau namanya mau nikah dan dalam fase serius sangat disarankan eksplorasi si calon, dan itu hak kita juga. Apakah si dia memiliki cita-cita atau keinginan yang belum tercapai?

    Jika kasusnya dirimu sudah 'ngebet' tetapi si dia yang diidam-idamkan belum siap, memang tidak boleh memaksa. Tetap tenang dan coba cari tahu apa hal yang masih mengganjal. Siapa tahu masih bisa dikompromikan. Tetapi tetap ingat, tidak bisa dipaksa lho ya.. Mungkin bisa ditunggu atau harus 'move on' cari yang lain. Nah kalau sudah begini, bingung, jangan lupa larinya ke ALLAH SWT yah, bisa lewat solat istikharah dan perbanyak ibadah biar hati tenang :)

  3. Apakah dia punya kepercayaan yang sama dengan kamu?

    Kalau soal ini ada banyak perbedaan pendapat. Tetapi setelah saya merasakan namanya nikah, tidak pernah ada dua orang yang akan selalu sependapat. Nah tapi jika perbedaan tersebut tidak terlalu mendasar, rasanya sih tidak akan jadi masalah panjang asalkan masing-masing dikuatkan dengan keimanan dan tujuan yang sama dalam pernikahan tersebut. Namun saya tak menampik ada pernikahan yang beda kepercayaan dan tetap berjalan, jadi itu pilihan ya. Namun pasti ada hal dasar yang perlu ditoleransi satu sama lain. That's my two cents :)
  4. Apakah keluarganya memiliki kultur yang sama dengan keluargamu?

    Setiap keluarga memiliki latar yang berbeda, terbangun dari kepercayaan, suku bangsa, tradisi turun temurun, pendidikan, kemampuan ekonomi, dan lainnya. Di Indonesia yang terdiri atas ratusan suku, pasti kita mau tak mau akan menemui keluarga yang suku yang sama atau pun berbeda.

    Nah, kembali ke konsep pernikahan. Pernikahan terlihat seperti dua insan yang bersatu, tapi sebenarnya lebih luas dari itu, dua keluarga. Ingat ya, dua keluarga.. Mau kita tinggal sendiri atau bareng keluarga suami/istri, ketemu hanya setahun sekali, tetap, keluarga besan akan memilki keterkaitan dengan kita. Jadi lapangkan hati

    Gimana kalau keluarga kita beda suku? Sejauh saya mengamati paling tidak keluarga memiliki kultur yang mirip, yaitu apa nilai yang paling dijunjung. Ada tipe keluarga yang lebih menjunjung soal agama, atau tingkat ekonomi, atau status pendidikan, atau lainnya. Obrolan keluarga dan pergaulan akan banyak didasarkan hal tersebut. Misalkan saat kumpul keluarga pertanyaan yang sering diajukan adalah bagaimana karir kita sejauh apa (nilai utama adalah tingkat ekonomi), atau anak-anak sudah bisa masuk perguruan tinggikah? ( didasarkan tingakt pendidikan). Jika kita dari keluarga dengan kultur yang berbeda, perlu adaptasi yang lumayan. Coba kenali dulu kultur calon keluarga mertua dengan bertanya ke si dia langsung atau bertemu langsung dengan keluarganya (sebagai salah satu proses taaruf).
  5. Apakah kamu sudah bisa memberikan nafkah? (laki-laki) 

    Pernikahan memang berdasarkan rasa saling tertarik dan keinginan beribadah. Tapi seperti kata ungkapan berikut
    "Duit... bukan segalanya, tapi segalanya perlu DUIT"
    Bukan berarti mata duitan ya, tapi intinya ada biaya yang diperlukan. Soal jumlahnya tergantung gaya hidup :)

    Nah, saat mencari mr right dikatakan carilah yang sudah mapan. Tapi tingkat mapan itu beda-beda dan mau sampai kapan? apakah yang sudah punya kerja, rumah dan mobil? Tergantung standar kita sih, tapi mapan juga bisa dibangun bersama-sama. Ada yang mengatakan, malah lebih enak jika berjuang bersama. Jadi bisa dipilih sesuai prioritas kita : mr right yang: "sudah mapan" atau "mapan bersama".  Jika memilih mapan bersama, pastikan paling tidak si dia sudah ada penghasilan mau tetap ataupun tidak tetap, paling tidak meski masih dibantu ortu, kalian sudah ada sumber penghasilan
  6. Apakah visi dan misi kalian sudah dikomunikasikan ?

    Pada proses perkenalan (taaruf), ada beberapa agenda yang perlu dilakukan, salah satunya menyampaikan "ke depannya kita mau ngapain? aku mau ngapain? kamu mau ngapain?"

    Atau teman-teman yang memilih jalur pacaran, jangan sampai lupa dengan becanda bareng atau jalan bareng, tapi hal ini perlu diketahui atau dikomunikasikan sebelum komitmen seumur hidup terucap.

    Kata "ngapain" itu bisa mencakup 5, 10, 15, 20 tahun ke depan.
    - Apakah mau lanjut sekolah lagi? jika iya kapan dan sampai jenjang apa?
    - Kalau kerja mau di bidang apa? kalau terpaksa harus jaga anak di rumah ga kerja mau atau tidak?
    - Jenis pekerjaan yang dicari? off site ke lahan minyak? atau kantoran? atau start up?
    - Pendidikan anak nanti mau di pesantren, sekolah negeri, atau homeschooling?
    - Tinggal mau dimana? ke depannya mau punya rumah sendiri atau tetap kontrak?
    - dan lain sebagainya

    Dari pertayaan ini kamu bisa eksplor dan lebih mengetahui kepribadian si dia lebih dalam. Tetap jadi diri kamu sendiri, jangan jadi orang lain. Jika ada yang bersembarangan, coba apakah masih bisa kompromi. Ingat prinsipnya pasangan itu harus ada yang mengalah.
  7. Apakah kamu sudah pernah tanya keluarga dan teman-temannya tentang si dia?

     Selanjutnya, perihal kepribadiaanya dia perlu kamu cek dan re-check. Apakah sikap dia ke kamu itu sudah sikap aslinya dia?

    Dalam tahapan taaruf di Islam, kamu bisa menanyakan ke keluarga (atas izin si dia) untuk ngobrol santai dengan kelurga dan temannya. Bisa secara langsung, atau jika kurang nyaman, via messenger. Jika keluarga tanya kebiasanya di rumah, sikapnya dia, dll Ke teman kamu bisa eksplor waktu masa-masa bandel, seperti teman SMP, SMA, dan kuliah. Dan teman waktu si dia sudah lebih dewasa, misal teman kerja, teman les, teman kuliah S2.

    Waktu masa taaruf saya dengan suami, saya ambil sampel teman masa kuliah (teman sekelas, sekelompok, dan satu pesantren) dan kerja, karena kebetulan saya dan suami satu SMA, jadi gambaran waktu beliau SMA saya sudah tahu. Saya ingin tahu setelah masa SMA, kehidupan dia dan kepribadian dia seperti apa. Percakapan saya dan teman suami tidak saya infokan ke dia, begitu juga sebaliknya :) Biar jadi data saja hehe
  8. Apakah dia sudah memperkenalkan kamu ke keluarganya?

    Hal ini bisa jadi tolak ukur apakah seorang pria serius ke Anda atau tidak. Kalau hanya dimulut bilang mau menikahi tapi tak kunjung mengajak Anda ketemu keluarga, tandanya ada sesuatu yang masih dia tunggu.  
  9. Apakah ada orang lain yang masih kamu tunggu?

    Nah, ini nih.. Saat memilih si dia, pastikan kamu sudah tidak tersangkut masa lalu. Sudah tidak menanti seseorang, sudah ga pengen siapa-siapa lagi. Jika kamu memilih seseorang karena keputusan yang didasari emosi, hindari ya... nanti nyesel sendiri lho. Menikah memang hal yang sangat mulia dan baik, tetapi kalau menikah bukan tulus dari hati paling dalam, karena alasan lain efeknya seumur hidup lho salah pilih pasangan. Better safe than sorry..

    Pastikan kamu sudah ikhlas dengan masa lalu, dan siap menyambut masa depan. Kalau kamu belum yakin, take your time :)
  10. Apakah kamu sudah siap jika (nauzubilah) dia ternyata tidak bisa berketurunan, dia tiba-tiba sakit dan cacat, dia tidak bisa menafkahi?

    Ini untuk menguji ketulusan kamu sama si dia. Mungkin sekarang si dia, super ganteng, tinggi, menarik, banyak cwe-cwe yang suka sama doi, pendidikan bagus, karir bagus, gaji udah tinggi. Tapi hal -hal tersebut yang akan menguji ketulusan kamu. Kalau seperti ini kita harus menguatkan alasan atau dasar kamu menikah. Nah sampailah kita di poin ke -11.
  11. Kenapa kamu menikah? Apa alasannya? Untuk apa?

    Hayooo, nikah karena apa?
    "Pengen cepet punya anak"
    "Bosen nge-jomblo"
    "Udah kelamaan pacaran bingung mau ngapain"
    "Udah usia"
     "Temen-temen udah pada kewong"

    Hal-hal tersebut boleh-boleh saja dijadikan sebagai alasan, tapi jangan alasan utama ya. Setelah berkontemplasi dan merenung (cielah). Sewaktu saya yang awalnya ingin nikah usia 29an, tapi jadi maju 3 tahun karena saya menemukan dasar dari nikah itu buat apa sih?

    Ibadah.

    Saya rasa itu dasar yang paling kuat. Jangan bilang mau nikah karena saya mau bahagia. Nikah belum tentu selalu bahagia, up and downnya ada seperti waktu kita masih sendiri.
    • "Pengen cepet punya anak",  kalau ternyata susah dan ga bisa punya anak :(
    • "Bosen nge-jomblo", nikah bukan hanya berbagi status tetapi juga berbagi tanggung jawab, jaga anak di rumah, cari nafkah, nanti gaji kita yang biasanya buat makan di resto mahal kepake lho.. :D
    • "Udah kelamaan pacaran bingung mau ngapain", sudah yakin orangnya si dia? berhubung sudah status pacaran dari SMA, nikah karena kasihan udah dipacarin lama
    • "Udah usia", karena udah usia, siapun jadi :( ALLAH SWT sudah punya rencanNYA, jangan karena umur lantas menikah dengan orang yg salah
    •  "Temen-temen udah pada kewong", peers pressure :( setiap orang punya waktunya masing-masing :)

    Tetapi Insya Allah kalau dasarnya adalah agama, karena ingin ibadah, berbagai kondisi yang tidak mengenakan kita bisa dikuatkan dan bisa kita lewati. Di ambil dari artikel era muslim berikut:

    Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan istrinya memperhatikan suaminya,” kata Nabi Saw menjelaskan, “maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan perhatian penuh Rahmat. Manakala suaminya merengkuh telapak tangannya (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela-sela jari jemarinya.” (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi dari Abu Sa’id Al-Khudzri r.a)

    Tuh kita saling lihat-lihatan saja sudah berguguran dosa. Banyak sekali ladang ibadah yang didapatkan istri dengan menjaga ketaatan ke suami, melayani dan menjaga kehormatannya.

     
    Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka) (QS. An Nisa’: 34)

    Semangaat, luruskan niat dan hati. Putuskan dengan logika dan bukan dengan emosi sesaat ya. Semoga lancar rencana-rencananya :)